Iqna mengutip laporan dari Anggota Delegasi Ilmiah Universitas Wali al-Ashr (as), Ashghar Sulaimi Zadeh, Rafsanjani dan mahasiswa phD Filsafat Universitas Isfahan pada Kamis kemarin, pada Konferensi al-Farabi dan Pendiri Filsafat Islam dalam menerangkan isi makalahnya menyatakan bahwa filsafat politik al-Farabi merupakan pengaruh dari pemikiran-pemikiran Plato, pelopor masyarakat madani. Adapun berkenaan dengan imamah merupakan pengaruh dari pemikiran Syiah.
Peneliti dan dosen universitas ini pada ceramahnya menegaskan, pemimpin dari masyarakat madani adalah seorang yang diberi petunjuk malalui jalan agama dan pemimpin umat dengan mengatakan, “Pemimpin masyarakat religius menurut al-Farabi adalah ketika ia memegang tanggung jawab, maka ia memimpin rakyat dengan kedamaian dan memberikan petunjuk sesuai dengan agama wahyu.”
Mahasiswa phD Filsafat Universitas Isfahan ini menegaskan bahwa filsafat politik al-Farabi dengan pemikiran politik Syiah memiliki banyak persaman dengan mengatakan, “Seluruh kriteria yang disebutkan oleh al-Farabi tentang masyarakat madani memiliki kriteria-kriteria yang telah disebutkan di dalam ajaran Islam untuk kepemimpinan dan para pelaksana perkara-perkara yang berhubungan dengan pengaturan umum di masyarakat Islam dan persoalan mengenai fitrah, persamaan dan kehendak berasal dari ajaran-ajaran Islam, yang menambah khazanah ilmu kepada filsafat politiknya.
Sulaimi dalam lanjutan ceramahnya menyatakan, al-Farabi menyakini gradasi wujud. Karena itu, masyarakat memiliki tingkatan dan yang terbaik adalah masyarakat madani yang dipimpin oleh seorang nabi dan para penerusnya. al-Farabi mengenalkan tauhid dan menyembah satu Tuhan sebagai pondasi terbaik dari masyarakat madani.
Ia menegaskan bahwa al-Farabi berpendapat bahwa manusia adalah sebuah eksitensi sosial dan al-Farabi mengenalkan aturan sosial sebagai aturan pilihan (ikhtiar), baik itu yang berhubungan dengan aturan alam tabiat dan menitik beratkan perhatian kepada mayarakat. Realitasnya adalah melalui kepemimpinan Nabi saw.
Hukum politik Islam seputar persoalan imamah dan penerus setelah Nabi saw sesuai dengan pemikiran syiah sebagai sebuah prinsip pokok dalam pembahasan teologi dan penerus setelah Nabi saw adalah bukan melalui pemilihan, melainkan pengangkatan.
Adapun imamah dalam pandangan al-Quran, Sulaimi menegaskan bahwa imamah adalah realisasi dalam khalifah Ilahi dan filsafat politik al-Farabi memiliki banyak kesamaan dengan pemikiran politik Syiah.
Perlu diketahui bahwa Konferensi ‘al-Farabi dan Pelopor Filsafat Islam’, diselenggarakan oleh Lembaga Hikmah Islam Mulla Sadra, diisi dengan acara ceramah dan pemaparan makalah dari berbagai negara, di gedung Sadra Mutaalihin pada Rabu dan Kamis kemarin.
737508